Tampilkan postingan dengan label tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tasawuf. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2015

Khutbah Rasul Allah Menjelang Ramadhan



Dari Salman ra. meriwayatkan: Pada hari terakhir bulan Sya’ban, Rasul Allah saw berkhutbah kepada kami, 

“Wahai manusia! Kini telah dekat kepadamu satu bulan yang agung, bulan yang sarat berkah, yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Inilah bulan yang Allah tetapkan Shaum pada siang harinya sebagai fardhu, dan shalat Tarawih pada malam harinya sebagai sunnah,

Barang siapa yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah pada bulan ini dengan satu amalan sunnah, maka pahalanya seolah-olah ia melakukan amalan fardhu pada bulan-bulan yang lain.

Dan barang siapa yang melakukan amalan fardhu pada bulan ini, maka ia akan dibalas dengan pahala seolah-olah telah melaksanakan tujuh puluh amalan fardhu pada bulan-bulan yang lain.

Inilah bulan kesabaran. Dan ganjaran bagi kesabaran yang sejati adalah Surga.

Bulan ini juga merupakan bulan simpati terhadap sesama. 

Pada bulan ini rizki orang-orang beriman ditambah, 

Barang siapa memberi makan (untuk berbuka) kepada yang berpuasa, maka kepadanya dibalas ampunan bagi dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka Jahanam, serta ia memperoleh ganjaran sebagaimana orang yang berpuasa itu tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.”

Kamipun berkata,”Wahai Rasul Allah! Tidak semua kami mempunyai sesuatu yang dapat diberikan untuk orang yang puasa berbuka.”

Rasulullah saw pun menjawab,
“Allah mengaruniakan balasan ini kepada seseorang yang member buka walaupun dengan sebiji kurma, seteguk air ataupun sehisap susu. 

Inilah bulan yang sepuluh hari pertamanya Allah menurunkan Rahmat, sepuluh hari kedua Allah memberikan ampunan, dan sepuluh hari yang terakhir Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka Jahanam.
Barang siapa yang meringankan beban hamba sahayanya pada bulan ini, maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka,

Perbanyaklah pada bulan ini oleh kalian 4 hal
2 hal pertama dapat mendatangkan Ridha dari Rabb-mu, 2 hal berikutnya kamu pasti akan memerlukannya
2 hal yang dapat mendatangkan Ridha Allah adalah hendaknya kalian membaca Laa ilaaha illa Allah dan beristighfar sebanyak-banyaknya.
Sedangkan 2 hal yang engkau pasti akan membutuhkannya adalah hendaklah kamu memohon kepada-Nya masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api Jahanam.

Dan barang siapa memberi minum kepada orang yang berbuka, maka Allah akan memberinya minum air dari telagaku. Yang sekali minum saja, ia tak akan merasakan kehausan lagi sampai ia masuk Surga.”
(HR Khuzaimah)

Minggu, 19 April 2015

Aksiologi Islam



Pendekatan Islam secara epistemology, bukanlah satu-satunya pendekatan dalam memahami Islam. Pendekatan ini hanya dalam tataran syariat yang hanya sanggup menguliti Islam saja. Akibatnya dengan menggunakan tools yang sama, tetap timbul aliran-aliran(mahzab) yang berbeda-beda.
Tetapi karena sifat Islam yang syamil dan mutakamil (lengkap dan sempurna) ada cara pendekatan lain yang mengarah kepada tujuan-tujuan yang sama. Walapun berbeda, hanya berbeda pada permukaannya. Pendekatan ini bukanlah pendekatan akal (ra’y)  dengan peraturannya yang sangat ketat. Tetapi pendekatan dengan hati.
Dasar pendekatan ini adalah sebuah hadist nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Ad-Darimi yaitu:
“Istafti qalbaka, al-Bir maa thma’anna ilaihi n-Nafs wa thma’anna ilaihi l-Qalb. Waa l–ism maa haaka fii n-Nafs wa taraddad fii Shuduur.”
“Tanyalah hatimu. Kebaikan adalah apa yang dengannya menjadi tenang nafsu dan hatimu. Dan dosa adalah apa yang membuat gelisah nafsu dan dadamu.”
 Ya! Feel the experience! Rasakan, jangan pikirkan. Biarkan hatimu bicara, maka ia akan menuntunmu kepada kebenaran.
Tetapi hati-hatilah. Pada area itu, yang di namakan Shadr, ada sebuah lagi yang akan mengajak engkau kepada kejahatan. Ialah Nafs. Al-Hawaa.
“Wa-Nafsin wa maa sawwaahaa. Fa alhaamaha fujuura ha wa taqwa ha. Qad aflaha man dzakkaa ha. Wa qad khaaba man dassaa ha.”
“Demi nafsu dan yang menyempurnakannya. Maka kami ilhamkan kepadanya Fujuur dan Taqwa. Maka beruntunglah orang yang membersihkannya, dan celakalah orang yang mengotorinya.”
Hati sangat berbeda dengan hawa nafsu. Al-Ghazali memberikan perumpamaan tentang hati dan nafsu. Bahwa tubuh bagaikan sebuah kerajaan. Tangan dan kaki adalah pekerja ahli, nafsu adalah pemungut pajak, amarah adalah polisi, hati adalah rajanya dan akal adalah perdana mentrinya.
Perumpamaan lain tentang hati dan nafsu, bahwa nafsu bagaikan api, apabila ia kecil, ia akan bermanfaat terapi apabila ia besar, ia akan membakarmu. Sementara hati bagaikan lampu pijar yang berlapis-lapis. Dari lapisan terluar hingga terdalam. Dan cahayanya berada di tempat yang paling dalam. Karenanya untuk mencapai cahaya itu kita perlu menyelam ke dasar hati.
Cahaya terdalam itulah yang di katakan sebagai nurani. Cahaya kebenaran Ilahy yang tersingkap ketika Fir’aun akan tengelam di lautan merah. Hingga ia meronta “Amantu bi rabbi Musa wa Harun” . Cahaya yang telah berjanji Balaa Syahidnaa ketika di tanya Alastu birabbikum?. Cahaya yang pasti ada pada setiap manusia, sekafir apapun ia.
Tetapi manusia telah melalaikan itu semua. Dosa-dosa yang di lakukannya telah menutupi kaca yang melapisi Cahaya itu. Maka kecermelangan cahaya itupun meredup. Bukan karena cahaya itu meredup, tetapi karena terhalang oleh noktah-noktah dosa.
Karenanya, dalam perjalanan mencari kebenaran, mendekatkan diri kepada Tuhan, menyelam ke dasar hati itu sangat diperlukan. Dan untuk mencapai ke sana kita perlu membabat aral yang merintangi jalan.
Banyak pendapat dari para ulama sufi dalam melakukan perjalanan ruhani ini. Mereka menyusun tahapan-tahapan yang beraneka ragam. Tetapi yang paling sederhana adalah jalan tiga tahap: yaitu Takhali, Tahali dan Tajali.
Takhali adalah membersihan diri dari dosa dan penyakit hati. Allah itu maha suci. Ia tak akan menerima kecuali yang suci. Karena itu untuk mendekatinya, kita harus suci. Secara lahiriah adalah dengan mandi dan berwudhu. Tetapi secara bathiniah adalah dengan Ikhlas. “Wa-Nafsin wa maa sawwaahaa. Fa alhaamaha fujuura ha wa taqwa ha. Qad aflaha man dzakkaa ha. Wa qad khaaba man dassaa ha.”
Tahali adalah mengisi diri dengan sifat sifat yang baik. Mengisinya dengan Akhlakul-Karimah. Meningkatkan nafsu sampai ke nafsu Muthmainah.
Tajali adalah perjumpaan dengan Tuhan. Pada tahap ini kita begitu dekat dengan Tuhan seperti api dengan panas, seperti kain dengan kapas dan seperti angin dengan arah.
Seperti yang di sebutkan dalam sebuah Hadits Qudsi: “Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada menunaikan apa-apa saja yang Aku fardukan; lalu seorang hamba-Ku lebih mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan nafilah, kecuali Aku mencintainya; Dan jika Aku telah mencintainya, maka jadilah Aku telinganya yang dengan itu ia mendengar; jadilah Aku matanya, yang dengan itu ia melihat; menjadi tangannya yang dengan itu ia menggenggam; dan menjadi kakinya yang dengan itu ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku pastilah Kuberikan, dan jika ia meminta izin kepada-Ku pastilah Kukabulkan.”
-*-
Berkata Abu Darwis Al-Khaulani, ia pernah mendengar Khuzaifah Al-Yaman berkata: “Manusia bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku menanyakan kepada beliau tentang keburukan lantaran khawatir barangkali hal itu menimpaku. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kami dahulu berada dalam kondisi jahiliyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kepada kami kebaikan agama ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?” Rasulullah menjawab, “Ya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah keburukan ada ada kebaikan lagi?”. Rasulullah menjawab,” Ya dan padanya ada asap.” Aku bertanya, “Apakah asap itu?” Rasulullah bersabda, “Yaitu sekelompok orang yang memberi petunjuk bukan dengan petunjukku, engkau akan mengetahui mereka dan engkau akan mengingkari mereka.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi?” Rasul menjawab,” Ya, yaitu orang-orang yang menyeru ke pintu-pintu jahanam, siapa saja yang menanggapi seruannya maka mereka akan mencampakannya ke dalam jahanam.” Aku berkata,” Ya Rasul Allah beritahukan ciri-ciri mereka kepada kami.” Rasulullah bersabda,” mereka sama kulitnya dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mengetahui mereka?” Jawab Rasulullah, “Engkau harus komit dengan jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku bertanya lagi, “Jika tidak ada lagi jama’ah kaum muslimin dan imamnya, bagamana?” Rasulullah bersabda,” Hindarilah dirimu dari semua kelompok, sekalipun kau harus menggigit akar hingga engkau mati dalam keadaan seperti itu.”

Kamis, 30 Januari 2014

Munajat Ibnu Athailah As-Sakandari














Ilahi,
Akulah fakir dalam kecukupanku
Bagaimana aku tidak fakir dalam kefakiranku?


Ilahi,
Akulah si bodoh dalam pengetahuanku
Bagaimana aku tidak bodoh dalam kebodohanku?


Ilahi,
Ragam aturanmu di semesta ini
Dan kecepatan manifest ketentuan-ketentuanMu
Telah mencegah hamba-hambaMu yang mengenalMu
Dan tiada harapan dariMu dalam cobaan (kecuali padaMu)


Ilahi,
Dariku layaklah dengan cacian
DariMu layaklah dengan pujaan


Ilahi,
Engkau Sifati diriMu dengan kelemah-lembutan padaku
Sebelum adanya kelemahanku
Apakah Engkau tega menghalangi lemah lembutMu
Setelah adanya kelemahanku?


Ilahi,
Jika yang tampak kebajikan padaku itu
Sungguh, itulah anugerahMu padaku
Jika yang tampak itu keburukanku
Sungguh, itulah keadilanMu, dan
HakMulah berhujjah padaku


Ilahi
Bagaimana Engkau serahkan itu padaku
Sedangkan diriku telah memasrahkan diri padaMu

Bagaimana jua aku mengurangi hakku
Sedang DiriMu Yang Menolongku


Bagaimana aku tak beruntung
Sedang Engkaulah yang menyayangiku


Inilah aku, tawassul padaMu
Dengan kefakiranku di sisiMu
Kefakiran yang yang menujukkan padaMu
Dan menyambungkan hubungan di sisiMu

Bagaimana mungkin aku bertawassul padaMu
Dengan kemustahilan-kemustahilan untuk bersambung denganMu?


Bagaimana jua aku mengeluh padaMu tentang derita
Sedangkan tak samar sedikit pun dari pandanganMu


Bagaimana aku urai dengan kata-kataku padaMu
Sedang kata itu dariMu dan menuju kepadaMu?


Bagaimana aku gagal menempuh cita-citaku
Sedang aku telah menebusnya bagiMu


Bagaimana ahwal ruhaniku tak elok
Padahal bersamaMu tegak berdiri Menuju kepadaMu?

Sabtu, 25 Januari 2014

Mutiara Ibn Jauzy

Bismilah.
Bagiku cukuplah Allah, sebaik-baik Pemberi nikmat danPemberi perlindungan.
Maha Suci Allah atas perguliran siang dan Malam
Puji bagi-Nya atas perhitungan bulan dan tahun.
Tak ada ilah kecuali Allah Yang Tak Tergambarkan Keagungan-Nya
Allah Maha Besar, Pemilik Ketinggian, Keagungan danKemuliaan
Maha Tinggi di atas segalanya
Semua yang disembah kecuali Dia adalah bathil
Sesungguhnya Allah-lah satu-satunya yang layak disembah tak ada selainnya
Dialah Tuhan Yang Awal, Yang Akhir, Yang Dzahir, dan Yang Bathin

Bagaimana mungkin ada sembahan selain Allah?
Sementara semua yang ada di bawah Arasy-Nya terus menerus berharap, berdo'a dan takut kepada-Nya?
Bukankah matahari, bulan dan bintang itu telah terhampar?
Bukankah langit dan bumi dan segala isinya itu berwujud dan berjalan dengan sangat teratur?
Bukankah bulan terus berputar pada orbitnya?
Bukankah akal pikiran telah tercipta?

Subhanallah!
Maha Suci Allah
Betapa besar keagungan-Nya
Subhanallah!
Maha Suci Allah
Betapa abadi Kuasa-Nya

Barangsiapa yang mengkhususkan dirinya untuk Allah,
maka Allah akan mengkhususkannya dari selainnya
Barangsiapa yang berlindung kepada Allah,
maka Allah akan menjadi Pelindungnya
Barangsiapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah,
maka Allah akan mencukupi urusannya
Barangsiapa yang menjual dirinya kepada Allah,
maka Allah akan membelinya dengan surga dan keridhaan-Nya
Barangsiapa yang menepati janjinya kepada Allah
maka Allah akan memenuhi janji-Nya kepadanya

Seseorang masih akan selalu dirundung takut dan khawatir sampai Allah memasukannya dalam kumpulan orang-orang yang mendapat perlindungan-Nya

Barangsiapa yang ingin mengetahui apakah ia wali Allah,
maka ia harus melihat kepada siapa ia tunduk dan patuh
dan kepada siapa ia memusuhi dan membenci
Barangsiapa yang menempuh jalan Islam,
maka ia akan selamat
Barangsiapa yang tidak menerima nasihat,
maka ia akan menyesal

Tidak ada perlindungan bagi orang-orang yang tidak mau mengikuti syariat Islam
Tidak ada musibah yang lebih besar melebihi musibah orang yang mati dalam kondisi melawan perintah Allah Tuhan Alam Semesta
Seperti inilah pernyataan yang benar dan janji yang telah ditetapkan

Sesungguhnya kehidupan hakiki hanya ada dengan dzikir yang terus-menerus
Keselamatan hanya ada pada kesesuaian sikap dengan perintah Allah
Terhindar dari celakan hanya dengan menaiki perahu Al-Quran dan Sunnah

Yang disebut kemenangan adalah ketika seseorang dijauhkan dari gelegak api neraka dan dimasukan kedalam surga
Yang disebut orang mati adalah orang yang tidak mengerti hak Tuhannya atas dirinya
Yang disebut karamah adalah karamah yang diberikan kepada orang yang bertakwa
Yang disebut kemuliaan adalah kemuliaan yang berasal dari  ketaatan
Yang diinginkan dari keintiman dan kedekatan adalah keintiman dan kedekatan seseorang dengan kebaikan
Yang diartikan ketakutan adalah ketakutan akan prilaku dosa
Dan semua musibah yang datang bukan karena penolakanmu kepada Allah adalah sebuah kenikmatan

Tak ada yang lebih melukai kecuali kelalaian dari Allah
Andai bukan karena sikap jahil kita terhadap keagunganAllah, niscaya kita tak akan tergelincir dari melaksanakan perintah-Nya
Andai bukan karena kesombongan kita kepada hukum Allah,niscaya kita tak akan terus-menerus melakukan kemaksiatan
Andai bukan karena keburukan kita dengan Allah, niscaya kita tak akan kesepian dengan Al-Quran
Jadilah kalian sebagaimana Allah memerintahkan kalian,niscaya Allah memberikan janji-Nya kepada kalian
Berikan kepada Allah apa yang Dia inginkan dari ketaatankalian, niscaya Allah dengan kasih-sayang-Nya akan memberikan apa yang kalian pinta

Wahai manusia....
Siapakah dari kalian yang lebih mulia disisi Allah jika kalian memuliakan diri kalian dengan takwa?
Siapakah dari kalian yang lebih utama disisi Allah jika kalian memutuskan perkara antara kalian dengan Allah dengan loyalistas kepada-Nya?
Dan siapakah dari kalian yang lebih dekat kepada Allah jika kalian lebih mengutamakan kedekatan perlindungan Allah?

Andai manusia tahu nilai dirinya
Niscaya ia tak akan menodai dirinya dengan kemaksiatan kepada Allah
Niscaya ia tak akan mengotori kehormatannya dengan keburukan
Niscaya ia akan berupaya memelihara dirinya dihadapan Tuhannya

Tak ada teman dalam keterasingan di liang lahat kecuali amal shalih
Tak ada yang mampu memadamkan jilatan neraka kecuali cahaya keimanan
Tak ada pijakan kaki yang kokoh di atas sirath kecuali keistiqamahan dalam berperilaku

Rabb adalah Pencipta
Hamba adalah yang dicipta
Tak dapat dihubungkan antara Pencipta dan yang dicipta kecuali dengan perantaraan ikatan berupa mengamalkan Al-Quran yang diturunkan Pencipta kepada yang dicipta

Amalkan AlQuran
Ikuti Sunnah
Maka kalian akan terlepas dari siksa dan menggapai surga

Tak ada daya,
Tak ada kekuatan
Kecuali dari Allah

(IbnJauzy)


Selasa, 21 Januari 2014

Sebuah Jariah



Siapapun telah tahu bahwa kehidupan di dunia adalah sementara. Tetapi kehidupan yang sementara itu justru menjadi penentu kehidupan lain yang lebih kekal. Kehidupan dunia yang untuk selanjutnya disebut kehidupan saja, hakikatnya adalah tempat singgah. Hanya sekadar tempat mampir untuk meneguk sedikit minuman. Maka apakah yang dapat engkau perbuat dalam kehidupan ini?

Sementara Iblis dan kaki tangannya senantiasa merayumu untuk mengecap anggur dosa. Sedangkan ibadahmu tidaklah seberapa jika dibandingkan ummat yang terdahulu.

Lalu di manakah nilaimu sesungguhnya?

Ingatlah Ali kw yang pernah mengatakan bahwa nilai manusia tergantung dari apa yang dihasilkannya, maka barang siapa yang berjuang hanya untuk mengisi perutnya tentu nilainya tak lebih dari apa yang dihasilkan dari perutnya.

Lalu di manakah nilaimu sesungguhnya?

Coba lihat ke dalam dirimu. Dan bayangkan ketika engkau hidup. Apakah sama adamu dengan ketiadaanmu? Atau justru dirimu adalah pribadi yang tidak tergantikan? Dan engkau sangat mengambil peran dalam perjalanan peradaban manusia?

Lalu di manakah nilamu sesungguhnya?

Sekarang bayangkan ketika engkau telah mati. Adakah yang berubah dari dunia ini dengan kematianmu? Atau justru riwayatmu hanya berakhir sampai di situ. Engkau mati tidak meninggalkan apa-apa.

Lalu di manakah nilaimu sesungguhnya?

Apakah engkau mengira shalat dan zakatmu telah cukup kau tunaikan untuk menghapus dosamu? Sementara shiyam dan tilawahmu telah menjadikan Dia yang menciptakanmu ridha terhadapmu?

Kalau tidak, berjariyahlah.
Buatlah sebuah amal yang pahalanya senantiasa mengalir kepadamu. Yang semakin lama, semakin mendekatkan dirimu kepada-Nya, tanpa kau harus berbuat apa-apa lagi. Itulah jariyah. Sebuah amal bola salju yang selalu membesar setiap waktu. Bahkan ketika nyawa telah terpisah dengan badanmu.

Maka menulislah. Kaislah ridha Tuhanmu dengan menulis. Karena sesungguhnya Allah telah bersumpah demi pena dan apa yang dituliskan. (QS 68;1)

Maka menulislah. Jadikan dirimu bermanfaat dengan menulis. Berbagi hikmah dengan menulis. Mengukir peradaban dengan menulis. Menyampaikan kebenaran dengan menulis.

Maka menulislah. Karena melalui tulisan engkau belajar. Dan melalui tulisan pula telah engkau reguk telaga hikmah para pendahulumu. Juga melalui tulisan telah engkau peroleh kebenaran dan jalan Tuhanmu.

Maka menulislah.

Sekarang juga.

Senin, 20 Januari 2014

Ruhani Seorang Da'i



Ketika kita sudah berkomitmen untuk berjuang menegakan kalimat Allah, menyeru manusia untuk hanya tunduk kepada-Nya, maka kita harus sadar bahwa jalan yang kita pilih adalah jalan yang terjal, penuh onak berduri. Jalan da’wah adalah jalan yang penuh gelombang, badai dan berbatu. Sebuah perjuangan yang menguras emosi, tenaga, pikiran, airmata bahkan mungkin darah. Sering kita dibuat tersenyum dan tertawa, tetapi tidak jarang kita dibuat menangis, marah, kecewa, dan sedih.
Karena itu, dalam meniti titian ini diperlukan iman, ikhlas, sabar dan optimis. Iman kepada Allah dan hari akhir karena kesudahan hanyalah milik-Nya. Ikhlas dalam bergerak karena balasan hanyalah dari-Nya. Sabar dalam setiap menghadapi tantangan yang menguras asa. Dan optimis karena kemenangan adalah kepastian.
Intinya adalah kekuatan ruhani seorang da’i merupakan kunci dalam menentukan berhasil/gagalnya sebuah da’wah. Kekuatan ruhani merupakan faktor terpenting yang wajib dimiliki seorang da’i. Sebuah kekuatan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa.
Lalu bagaimana cara mendapatkan kekuatan ruhani itu?
DR. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya yang berjudul Tarbiyah Ruhiyah menyebutkan bahwa ada lima faktor penting dalam mencapai takwa.
1.        Mu’ahadah
Mu’ahadah adalah mengingat perjanjian-perjanjian yang telah kita buat kepada Allah. Hendaknya setiap kita menyendiri dan mengingat perjanjian-perjanjian yang telah kita buat kepada Allah. Dengan mu’ahadah kita akan tetap istiqamah dalam melaksanakan syariat Allah
2.        Muraqabah
Muraqabah adalah merasakan keagungan Allah di setiap waktu dan keadaan, serta merasakan kebersamaannya dalam sepi maupun ramai. Dengan muraqabah kita akan ikhlas, karena setiap fi’il adalah untuk-Nya. Dengan muraqabah kita akan istiqamah. Tak terpengaruh oleh situasi dan kondisi.
3.        Muhasabah
Makna muhasabah adalah hendaknya seorang muslim menghisab dirinya setelah melakukan sebuah amal. Apakan amal itu benar-benar semata untuk meraih ridha Allah ataukah tercampur dengan kepentingan pribadi, riya, ujub atau malah telah mengurangi hak-hak orang lain? Apakah amal yang kita lakukan sudah maksimal? Atau dilaksanakan sekedarnya?
Di samping itu muhasabah juga melakukan perhitungan diri antara amaliyah dan dosa. Apakan amaliyah yang kita lakukan sudah cukup menutup dosa? Lalu bagaimana dengan pertobatan?
Dengan muhasabah kita akan terbebas dari penyakit hati.
4.        Muaqabah
Muaqabah adalah pemberian sanksi. Sudah sepatutnya bagi kita jika kita telah melalaikan Allah, kita beri sanksi diri kita sebagai mana orangtua memberi sanksi kepada anaknya yang bersalah. Semoga dengan melakukan muaqabah kita menjadi jera berbuat dosa.
5.        Mujahadah
Mujahadah adalah bersungguh-sungguh dalam melaksanaan ibadah. Di sana ada makna memaksakan diri untuk berbuat yang terbaik, menyerahkan yang terbaik dan mengoptimalkan diri dalam beramaliyah. Ibadah adalah tarbiyah. Dengan mengerahkan kapasitas maksimal, itu artinya kita membangkitkan potensi yang terpendam dalam diri kita. Maka integritas kita akan semakin meningkat.

.

Faktor-faktor yang menumbuh suburkan ruhiyah

Selain faktor-faktor untuk mencapai ketinggian ruhiyah tersebut di atas, buku tersebut juga memaparkan faktor-faktor yang menumbuh suburkannya. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu kelompok yang berkaitan dengan kepekaan jiwa dan kelompok amaliyah lahiriyah.

1.        Yang termasuk kelompok yang berkaitan dengan kepekaan jiwa adalah:
a.        Selalu merasakan muraqabah kepada Allah
Hendaknya kita selalu meyakini bahwa Allah selalu bersama kita dimanapun kita berada. Ia Maha Melihat, Maha Mendengar, juga Maha Mengetahui. Dan dalam muraqabah secara konsisten ini cukuplah kita mencontoh Umar ibn Khattab r.a. Disana ada seorang gembala yang muraqabah, seorang gadis yang muraqabah, juga seorang istri mujahid yang muraqabah.

b.        Mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya
Apabila seorang mukmin senantiasa mengingat bahwa kematian pasti menjemputnya, lalu ia akan ditanya dalam kesendiriannya dalam kubur, tentu hatinya akan peka kepada perasaan takut kepada Allah, jiwa/raganya akan tergerak untuk beramal shalih demi membawa bekal kepada hari yang dijanjikan. Karenanya maka dzikrul maut adalah sesuatu yang urgent untuk dilakukan.
Bahkan Rasulullah pun menegaskan bahwa mukmin yang paling jenius adalah mukmin yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak persiapannya untuk menghadapinya.
Itulah makannya para ulama generasi salaf, sering berkumpul pada malam hari hanya untuk membicarakan kematian kemudian mereka menangis seakan-akan  dihadapan mereka ada jenazah.
Saya rasa cukuplah dengan perkataan Hamid al-Qushairy bahwa: ”Kita semua yakin dengan akan datangnya maut, namun kita tidak mempersiapkan diri. Kita semua yakin akan surga, namun kita tidak beramal untuknya. Dan kita semua yakin akan adanya neraka namun kita tidak merasa takut kepadanya. Lalu atas dasar apa kita bersuka ria?”
c.        Membayangkan hari Akhirat dan hal-hal yang berkaitan dengannya
Ketika kita membayangkan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh ahli surga dan ahli neraka, kejadian di padang mahsyar, dibaginya catatatan amal perbuatan, perjalanan pada titian sepertujuh rambut, maka kita akan terlecut untuk beribadah dan bersungguh-sungguh mendekatkan dirinya pada Allah. Bahkan seluruh jiwa/raga akan bangkit untuk melaksanakan amal shalih untuk hari akhir nanti agar kita termasuk orang-orang yang saling ridha kepada Allah.
Karena itu marilah kita bayangkan peristiwa-peristiwa itu.
Di mana kita dibangkitkan dari kubur dalam telanjang bulat dengan cemas yang mengabut cuaca
Di mana mentari mengusap kepala dan peluh mengolam laut
Di mana bumi menjadi saksi bicara dan kita tak mampu berharap
Di mana kita melupa siapa di atas mizan, di depan kitab perbuatan dan pada titian jahanam
Di mana jasad menghianati nafsu dan lisan
Marilah kita ingat pula tentang gelapnya jahanam, tentang dalamnya neraka, tentang bahan bakarnya yang adalah batu dan kita, tentang gada-gadanya yang tak mampu jin dan manusia mengangkatnya bersama, tentang busuk baunya, tentang zaquum, juga tentang airmata darah ahli neraka yang memarit.
Tetapi jangan pula dilupakan bahwa Allah juga telah menyiapakan untuk hamba-hamba-Nya yang shalih apa yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terbetik di dalam hati manusia. Yakni diperkenankan untuk melihat Allah secara langsung sebagai nikmat yang terbesar.

2.        Faktor-faktor Amaliyah Lahiriyah
Amaliyah yang menumbuh suburkan ruhiyah sebenarnya banyak sekali, tetapi ada beberapa yang terpenting. Diantaranya
a.        Tilawah Al-Qur’an dengan mentadabburinya
Bacaan yang disertai tadabbur yang khusyu’ mampu mempertajam pandangan yang sudah tumpul, pemusnah pandangan yang sempit dan obat bagi hati yang sakit. Hendaknya kita menjadikan al-Qur’an sebagi sahabat yang tak pernah kita tinggalkan barang sehari. Karena dengan Al-Qur’an kita menjadi dekat dengan Allah. Ialah furqan yang membedakan haq dan batil. Biarkan Qur’an menyapa hati, ruh dan fikiran kita. Dengan menjadikan Qur’an sebagai rujukan kita tak akan tersesat dalam berjalan.
b.        Hidup bersama dengan Rasulullah dan mencontoh sirahnya yang Agung
Beruntunglah kita sebagai umat Muhammad saw. Karena beliau adalah uswah hasanah, qudwah shalihah dan panutan terbaik di dunia ini. Allah terlah memilihkan bagi kita sosok tanpa cela untuk diikuti. Seorang raja yang juga rahib. Seorang bijaksana yang juga pemberani.
Sudah sepatutnya seorang da’i mencontoh Rasulullah dalam beragama dan keduniawian. Dalam ibadah, dalam kezuhudan, ketakwaan, kesabaran dan kelembutan, keteguhan prinsip, keberanian, kekuatan fisik, serta kehangatan cintanya.
c.        Selalu menyertai orang-orang pilihan yang mereka yang berhati bersih dan mengenal Allah.
Seseorang itu bersama dengan orang yang dicintainya. Karena itulah kita patut untuk bergaul dan bersama dengan orang-orang yang shalih dan ikhlas. Kita memerlukan mereka karena mereka akan menjaga ketakwaan kita. Meliputi lingkungan kita dengan dzikir dan ketaatan. Saling menasehati dalam kebenaran, dalam kesabaran dan dalam kasih sayang. Hidup seorang mukmin dengan orang yang salih seperti hidup seekor ikan di dalam kolam.
Sungguh indah ukhuwah dalam iman dan ketakwaan, percintaan dalam pengabdian, persaudaraan dalam jihad dan kebenaran, dan kasih-sayang dalam penghambaan.

d.        Dzikir kepada Allah dalam setiap waktu dan kesempatan
Dzikir adalah mengingat Allah dalam semua kondisi. Dzikir terdiri atas dzikir hati, pikirian, lisan dan perbuatan. Dzikir perbuatan mencakup tilawah, ibadah dan menuntut ilmu.
Berdzikirlah dengan sungguh-sungguh secara kontinu. Semoga kita naik ke ketinggian rohani, mendapat kehormatan dalam munajat, menjadi seorang yang khusyu’, dan tak pernah terbetik dalam maksiat kepadanya.
e.        Menangis kepada Allah dalam waktu khalwat
Kala kita berkhalwat, membayangkan keberpalingan kita dan kemaksiatan yang kita perbuat, membayangkan akhirat dan bekal yang telah kita persiapkan untuknya, membandingkan kualitas ibadah kita dengan para salafus-shalih, maka semoga hati menjadi trenyuh, jiwa menjadi bergetar, dan tanpa terasa airmata jatuh di pipi. Tak hanya itu, hendaknya kita mampu menangis karena: takut riya dalam ibadah, takut ujub dalam kecukupan, takut nifaq dalam bergaul, dan takut sombong dalam berhias. Sungguh dosa-dosa itu tak pernah kita sadari menyelusup dengan halus ke dalam hati yang merasa aman dalam pengabdian kepada Allah.
Orang yang paling takut adalah orang yang paling mengenal dirinya dan Rabb-nya. Karena itulah Allah telah  memberikan keistimewaan pada tangisan kita hari ini dengan tawa diakhirat kelak.
Orang yang menangis berada dalam naungan pada hari tak ada naungan kecuali naungan Allah. Orang yang menangis, akan terbebas dari azab Allah. Orang yang menangis berada dalam ampunan dan maghfirah-Nya. Dan orang yang menangis berada dalam limpahan cinta dan kasih-Nya.
f.         Bersungguh-sungguh membekali diri dengan Ibadah nafilah.
Ibadah nafilah merupakan sarana pembekalan diri seorang hamba apabila si hamba merasa kurang dengan kewajiban-kewajiban yang telah ia laksanakan. Semoga dengan ibadah nafilah kita diangkat ke tempat yang terpuji.
Sebenarnya banyak sekali ibadah nafilah yang dapat dilaksanakan, beberapa yang terpenting di antaranya : Shalat Lail, Shalat Dhuha, Shalat Awwabin,  Shaum Senin-Kamis, Shaumu-Daud, Shaum Yaumul-‘Arafah, Shadaqah Nafilah dll.

Pengaruh Tarbiyah Ruhiyah dalam Pembinaan, Perbaikan dan Pembaharuan Ummat
Apabila kita telah  memancarkan rohani, berhubungan erat dengan Allah dan ketakwaan, maka tersingkaplah makna dan hakikat. Terbukalah rahasia-rahasia yang hanya dapat di tangkap oleh orang yang jenius dan takwa.
Apabila jalan rohani telah kita daki. Dan derajat takwa telah kita raih. Cinta kasih-Nya telah meliput diri. Maka Cahaya Iman akan memancar dalam setiap desah nafas. Cahaya itu akan menyapa sekeliling bagai mentari. Jika cahaya itu menyirami hati yang kerontang, maka suburlah hati itu. Jika cahaya itu menyinari kegelapan batin, tentu teranglah ia.
Maka jalan da’wah akan terasa mudah, perjuangan akan terasa ringan, dan pengorbanan menjadi suatu kejamakan.
Kekuatan ruhani inilah yang nantinya menjadi senjata yang mematahkan tiang pancang kebatilan, menghancurleburkan kemaharajalelaan, dan proklamator kemenangan da’wah dan peradaban islam.
Semoga kita mewujudkannya. Amin.