Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2016

The High Spears



The High Spears (الرماح العوالي)
Ar Rimah Al’awali


It is very old poem by Safieddine al holi (1276 - 1349)

سل الرماح العوالي عـن معالينـا
Ask the high spears about our backlash

وا ستشهد البيض هل خاب الرجا فينا
And make the elderly our witness if you ever lost hope in us

لما سعينـا فمـا رقـت عزائمنـا
When we preceded, our determination never softened

عما نـروم ولا خابـت مساعينـا
To achieve what we desire and our efforts never failed

قوم إذا أسْتُخْصِموا كانوا فراعنـة
A people, if they oppose you, they become Pharaohs,

يوماً وإن حُكِّموا كانـوا مَوازينا
One day if they rule; they act like scales

تدرعوا العقل جلبابا فـإن حميـت
Arm yourselves with a mind like a loose gown;

نار الوغي خلتهـم فيهـا مجانينا
If the fire of the battles gets heated they become deranged

إذا ادَّعَوا جاءت الدنيا مصدقــةً
If they demand, then the world will accept as true

وإن دَعَوا قالت الأيام آمينا
And if they supplicate, the days will say Ameen

إنا لقوم أبت أخلاقنا شرفا
We are the people whose honourable manners

أن نبتدي بالأذي من ليس يؤذينا
Refused to inflict harm on who does not initiate it

بيض صنائعنا سودٌ وقائعنا
White are our deeds, Black is our reality,

خضرٌ مرابعنا حمر مواضينا
Green is our spring, Red is our past

لا يظهر العجزُ منا دونَ نيلِ المنى
Weakness will not be shown by us until we gain death

ولو رأينا المنايا في أمانينا
Even if we see death in our dreams

Kamis, 23 Juni 2016

SANTRI



Malem ari
Pake sarung pergi ngaji
Ada acara tipi
Kagak pernah perduli

Obor di kiri
Di dade kitab suci
Jalan ke rume ustat
Persiapan hari kiamat

Abis ngaji
Kaen sarung di selempang
Turun ke karangan
Latian bela diri

Ya Allah Gusti Pengeran
Dimane die sekarang?




Jumat, 08 Mei 2015

HAMKA dan M Natsir

KEPADA SAUDARAKU M. NATSIR

Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir

Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi

Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi

Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu……!


Balasan Puisi Natsir Kepada Hamka

DAFTAR

Saudaraku Hamka,

Lama, suaramu tak kudengar lagi
Lama...

Kadang-kadang,
Di tengah-tengah si pongah mortir dan mitralyur,
Dentuman bom dan meriam sahut-menyahut,
Kudengar, tingkatan irama sajakmu itu,
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku,

Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam ”Daftar”.
Tiba-tiba,
Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan,
Rayuan umbuk dan umbai silih berganti,
Melantang menyambar api kalimah hak dari mulutmu,
Yang biasa bersenandung itu,
Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam.

Aku tersentak,
Darahku berdebar,
Air mataku menyenak,
Girang, diliputi syukur

Pancangkan!
Pancangkan olehmu, wahai Bilal!
Pancangkan Pandji-pandji Kalimah Tauhid,
Walau karihal kafirun...
Berjuta kawan sefaham bersiap masuk
Kedalam ”daftarmu” ... *

Saudaramu,
Tempat, 23 Mei 1959

Kamis, 30 Januari 2014

Munajat Ibnu Athailah As-Sakandari














Ilahi,
Akulah fakir dalam kecukupanku
Bagaimana aku tidak fakir dalam kefakiranku?


Ilahi,
Akulah si bodoh dalam pengetahuanku
Bagaimana aku tidak bodoh dalam kebodohanku?


Ilahi,
Ragam aturanmu di semesta ini
Dan kecepatan manifest ketentuan-ketentuanMu
Telah mencegah hamba-hambaMu yang mengenalMu
Dan tiada harapan dariMu dalam cobaan (kecuali padaMu)


Ilahi,
Dariku layaklah dengan cacian
DariMu layaklah dengan pujaan


Ilahi,
Engkau Sifati diriMu dengan kelemah-lembutan padaku
Sebelum adanya kelemahanku
Apakah Engkau tega menghalangi lemah lembutMu
Setelah adanya kelemahanku?


Ilahi,
Jika yang tampak kebajikan padaku itu
Sungguh, itulah anugerahMu padaku
Jika yang tampak itu keburukanku
Sungguh, itulah keadilanMu, dan
HakMulah berhujjah padaku


Ilahi
Bagaimana Engkau serahkan itu padaku
Sedangkan diriku telah memasrahkan diri padaMu

Bagaimana jua aku mengurangi hakku
Sedang DiriMu Yang Menolongku


Bagaimana aku tak beruntung
Sedang Engkaulah yang menyayangiku


Inilah aku, tawassul padaMu
Dengan kefakiranku di sisiMu
Kefakiran yang yang menujukkan padaMu
Dan menyambungkan hubungan di sisiMu

Bagaimana mungkin aku bertawassul padaMu
Dengan kemustahilan-kemustahilan untuk bersambung denganMu?


Bagaimana jua aku mengeluh padaMu tentang derita
Sedangkan tak samar sedikit pun dari pandanganMu


Bagaimana aku urai dengan kata-kataku padaMu
Sedang kata itu dariMu dan menuju kepadaMu?


Bagaimana aku gagal menempuh cita-citaku
Sedang aku telah menebusnya bagiMu


Bagaimana ahwal ruhaniku tak elok
Padahal bersamaMu tegak berdiri Menuju kepadaMu?